Thursday, March 4Dikelola oleh kawani.tv

Sayonara Mahkota Juara

Jika Pelaksanaan Pekan Olahraga Daerah Jawa Barat ( Porda ) Jabar  ke -14  digelar  pada saat ini atau bulan Ini, maka sudah dipastikan Kabupaten Bekasi akan menjadi Juara Umum di susul Kota Bandung  yang akan menempati peringkat kedua.

Sementara Kabupaten Bogor selaku juara bertahan pada Porda Jabar 2018, harus berebut dengan lima atau enam daerah untuk menempati posisi tiga besar.   

Sebagai juara umum akan terseok seok untuk bisa masuk ke tiga besar dan harus bersaing dengan Kabupaten Bandung, Kota Bekasi, Kota Bogor,  Kabupaten Bandung Barat dan lainnya.  

Ini hanya sebuah analisa penulis yang lahir dan  berasal saat mencicipi  Kopi sore sore dan Dodongkal  di Lapangan Tenis Pendopo.  Silahkan pembaca punya analisa masing masing dan itu sangat bebas .   

Seandainya Kabupaten Bogor gagal masuk tiga besar dalam Porda Jabar 2022 di Tasuba mendatang, ini jelas mempermalukan Bupati Bogor  yang akan  harus  merelakan mahkota  juara umumnya di rebut oleh daerah lain.

Tanda tanda Kabupaten Bogor harus mengucapkan “ Sayonara Mahkota Juara “ adalah banyaknya atlet –atlet Kabupaten Bogor  yang habis kontrak ataupun atlet binaan  yang  terus di goda dan dirayu  oleh daerah lain.   

Data yang saya miliki dari pergerakan mutasi atlet Kabupaten Bogor  yang habis kontrak ataupun atlet binaan di pengcab –pengcab yang ada di Kabupaten Bogor sungguh fantastis .  

Data data ini hanya buat catatan saya pribadi, karena untuk menjaga Independensi dari sebuah Investigasi.    

Banyak pengcab  di KONI Kabupaten Bogor  ada pergerakan atlet  yang akan “menyebrang “  ke daerah lain.

Apakah  kondisi  atlet binaan cabor kabupaten dari sejumlah  cabor  yang tengah melakukan  pergerakan untuk “nyebrang “  ke daerah  lain  sudah diketahui oleh Sport Intelegen  yang ada di  KONI Kabupaten Bogor ?  Apakah  Sport Intelegen  sudah ada data nya? Sejauh mana tugasnya bidang ini ???

Sangat tidak elok dan tidak pantas jika penulis membeberkan pergerakan mutasi atlet yang tengah menggoda dan  menerpa  para atlet  di beberapa cabang olahraga di Kabupaten Bogor.   

Jujur  walaupun saya tidak ada dalam jajaran Sport Intelegen KONI Kabupaten Bogor, namun data  pergerakan atlet mutasi jelang Porda Jabar 2022  sudah ada di kantong dan catatan saya.

Jika  penulis paparkan dalam tulisan ini, maka yang ada hanya pernyataan “ ah yang benar,  ah masa iya sih “ .  Pernyataan itu sangat klasik dan terkesan menutup nutupi sesuatu yang sudah terbuka.

Apakah  proses  mutasi atlet  ada keterlibatan  “Biong Atlet.  “ Karena tidak menutup kemungkinan jika terjadi mutasi atlet binaan dari satu daerah ke daerah lain, biasanya ada “Ning Nong”  atau  Fulus yang bisa mengalir ke “Biong Atlet”.

Biong Atlet ini bisa berasal  dari Internal cabor atau internal pengurus  KONI  yang memuluskan seseorang atlet untuk bisa pindah ke daerah lain. !!! 

Mudah –mudahan di Kabupaten Bogor ini tidak  ada Praktek Biong Atlet !!!!.

Hingga ketika memang  terjadi mutasi pun dilakukan secara normal dan alamiah, karena para atlet sudah tidak betah lagi di Kabupaten Bogor  akibat telatnya atau tidak adanya   “Vitamin “  ( Gaji Bulanan )  kepada para atlet potensial, atlet binaan  ataupun  atlet  kontrak .         

Patut di pertanyakan juga jika banyak atlet binaan Pengcab  dan atlet tersebut asli Kabupaten Bogor sampai minta pindah mutasi ke daerah lain  ???

Berarti  hal ini ada sesuatu yang tak beres  di Kabupaten Bogor.  Ada apa ini ?   Maaf ini  bukan  kompor atau memanasi situasi.

Situasi yang terjadi di bawah  “Api” nya sudah menyala sejak lama . Karena hingga  saat ini  para  atlet berprestasi di Kabupaten Bogor belum menerima stimulant atau bantuan dana  pembinaan atlet berpestasi.

Jika para atlet hingga saat ini belum menerima uang bulanan  dari KONI Kabupaten Bogor, wajar  banyak  atlet binaan Pengcab  di KONI Kabupaten Bogor mulai membanding bandingkan dengan atlet daerah lain yang sudah menerima  uang bulanan dari KONI nya masing masing .      

Sudah seharusnya KONI Kabupaten Bogor  langsung berbuat aksi nyata dan bukan bermain  wacana  akan , akan , akan  dan akan  ada stimulant atlet. Itu baru sekedar akan dan hanya wacana.  

Ingat perang sesungguhnya Porda Jabar 2022 itu adalah saat ini.

Bagaimana  caranya cabor mempertahankan atlet mutasi. Bagaimana caranya cabor menahan atlet binaan supaya tidak “Loncat Pagar “ ke daerah lain. Bagaimana  caranya KONI menyusun anggaran Vitamin yang bisa membat senyum dan bahagia para atlet . Bagaimana KONI dan Cabor melakukan pemetetaan potensi medali dan potensi kegagalan meraih medali ?? Inilah perang Porda sesungguhnya. Karena pada saat Porda Jabar digelar itu sudah tinggal seremonial saja.             

Daerah lain sudah mulai melakukannya dan uangnya sudah banyak yang dirasakan para atlet dan keluarga atlet.

Sedangkan di Kabupaten Bogor  baru mewacanakan “Wacana “ dan bisa saja terjadi Pro Kontra Internal  soal besaran nilai yang akan diberikan kepada para atlet.    

Jangan sampai ketika Kabupaten Bogor sudah ada duit  dan akan membagikan dana atau uang buat “gaji”  atlet  berprestasi, ternyata para atlet berprestasi tersebut sudah pindah ke daerah lain !!!!!!. 

Harus dipahami , atlet tidak butuh wacana, atlet tidak paham dengan kata-kata baru akan dibahas,  baru akan diusulkan dalam Perubahan Anggaran  ataupun lainnya.  

Atlet itu butuh bukti nyata mau 1 juta,  2 juta  atau sampai 5  juta bisa ia terima dari KONI Kabupaten Bogor, itu yang saat ini atlet Butuhkan ??? 

Atlet tidak butuh catatan angka angka  dalam  kertas. Karena jumlah  keringat para atlet dalam berlatihpun untuk memberikan prestasi bagi daerahnya  tidak pernah  ada dalam angka angka atau catatan para inohong keolahragaan di semua daerah, termasuk Kabupaten Bogor.  

Apa yang penulis paparkan ini bukan semata mata sebuah kritikan. Namun bisa jadi pengingat bagi semua pemangku kebijakan  di Kabupaten Bogor.  

Terlebih-lebih penulis tidak mau Bupati Bogor dipermalukan oleh Kontingennya sendiri.

Jangan sampai  pada Porda Jabar 2022  nanti, Kabupaten Bogor  terlempar dari tiga besar atau dari lima besar, yang berasal dari situasi saat ini yang serba telat dalam memberikan kebahagiaan atau senyuman kepada para atlet atlet berprestasi binaan Pengcab di Kabuipaten Bogor yang tengah melakukan Pelatda PON Jabar .     

Satu hal lagi, jika Kabupaten Bogor ingin jadi juara umum Porda 2022 mendatang, maka anggaran KONI nya ditahun ini harusnya berkisar  25 atau 30  milyar.  Jika anggaran KONI nya hanya sekitar 6 Milyar, maka ini cukup buat apa ????

Angka 6 Milyar mah untuk mengontrak 3 atau 4  atlet dari satu cabor  juga sudah habis.

Tidak menutup kemungkinan  ada beberapa daerah yang ada di Jabar  saat ini,  anggaran  KONI nya  ada yang berkisar 30 Milyar dan 40 Milyar .

Jelas Kabupaten Bogor  dengan  6 Milyar tidak bisa membendung atau menahan gejolak atlet atletnya yang akan mutasi ke daerah  dengan  anggaran KONI nya mencapai  30 atau 40 Milyar.

Apa yang penulis paparkan ini sebagai bentuk rasa sayang  penulis kepada dunia olahraga Kabupaten Bogor.

Apa yang penulis paparkan ini sebagai bentuk untuk  menjaga rasa sayang dan rasa cinta sebagai rakyat Kabupaten Bogor  yang tidak mau kepala daerahnya atau BUPATI  nya   dipermalukan dalam Pesta Olahraga Multi Event seperti Porda Jabar  dari sebagai Juara Bertahan Porda Jabar 2018 terlempar dari tiga besar atau Lima besar .            

Mumpung masih ada waktu, mumpung masih ada peluang,  ayo semua elemen dan pemangku kebijakan  di Kabupaten Bogor kembali merekat dan menatap Porda Jabar 2022 dengan amunisi dan vitamin atlet  yang memadai dan berkecukupan serta diberikan tepat sasaran

Tinggalkan pesan

%d bloggers like this: