Thursday, March 4Dikelola oleh kawani.tv

Atlet Harus Sejahtera

Akhir pekan lalu, saya mendapatkan pesan Whatsapp beberapa pengurus cabang olahraga di satu daerah yang ada di Jawa Barat. 

Para pengurus cabang olahraga itu bingung karena beberapa atlet potensialnya telah ditawari untuk mutasi ke daerah lain yang lebih menjanjikan soal perhatian dan kesejahteraan buat para atletnya.       

Para pengurus dan pelatih cabang olahraga tersebut tidak bisa berbicara apa apa dan tidak bisa menahan nahan para atletnya, jika tidak ada perhatian serius dari daerahnya saat ini terkait dana pembinaan buat para atletnya.   

Apa yang dikatakan pengurus dan pelatih cabor yang atletnya di tawari untuk pindah ke daerah lain pada dasarnya bukan ancaman belaka.

 Namun, itu bisa terbukti jika sampai saat ini para inohong di daerahnya masih belum bergerak nyata dalam memberikan perhatian yang lebih kepada para atlet potensialnya.

Ancaman Eksodus para atlet potensial dari satu daerah ke daerah lain yang menjanjikan soal kesejahteraan memang sudah jadi budaya jelang Porda Jabar tiap empat tahun sekali.

Hal itu sesuatu yang wajar, apalagi jika para atlet dan cabang olahraga yang terus melakukan pembinaan lokal dan menghasilkan atlet potensial hingga berprestasi nasional dan internasiona disamakan  dalam hal nominal  dana pembinaan dari KONI setempat.  

Harusnya ada parameter yang jelas dari KONI, ketika memberikan bantuan kepada cabang olahraga.

kalau mau jujur bisa dihitung jari cabang olahraga yang  punya atlet lokal , atlet binaan, punya program, punya pembinaan dan punya prestasi mentereng setiap event Porda Jabar digelar .

Biasanya, saat mau Porda Jabar muncul Budaya Mutasi dari berbagai daerah yang ada di tanah air masuk ke daerah daerah di Jawa Barat.       

Kedepannya, DPRD, Dispora  dan KONI harus duduk bareng untuk membuat formula ideal yang membahas program kesejahteraan dan membahas soal dana stimulan bulanan ( Bantuan Prestasi )  untuk atlet atlet lokal, atlet atlet asli binaan cabang olahraga yang ada di KONI setempat.

Selain ada Dana Pembinan untuk kegiatan Cabang Olahraga secara Makro. Kedepannya harus ada anggaran terpisah yang “ngunci” dalam satu kegiatan di Dispora dengan nama  “Anggaran  Bantuan Prestasi” untuk atlet dan pelatih berprestasi .    

Anggaran Bantuan Prestasi ini khusus  atlet potensial,  atlet berprestasi dan pelatih  dari semua cabang olahraga yang ditetapkan parameter nominalnya  sesuai dengan jenjang prestasi  yang diraihnya. Apakah prestasi level Kota/ Kabupaten, level regional Propinsi, level nasional atau Internasional.   

Anggaran ini bisa dititipkan di salah satu bidang  yang ada di Dispora dan berkaitan dengan Pembibitan atau Prestasi .  

Selain  itu  diberikannya tiap satu bulan sekali melalui rekening  atlet masing masing. Supaya tidak ada praktek sunat  menyunat  anggarannya .    

Anggaran Bantuan Prestasi ini bisa menjamin kenyamanan, ketenangan atlet dalam berlatih, menambah motivasi untuk memberikan prestasi terbaik dalam semua ajang yang diikuti.

Hal terpenting jika ada  Anggaran Bantuan Prestasi yang diberikan setiap bulan itu secara tidak langsung akan mengikat para atlet untuk tidak hengkang atau dibajak daerah lain.

Sudah saatnya persoalan kesejahteraan atlet ini masuk dalam pembahasan di DPRD supaya bisa menjadi mata anggaran yang baku dan rutin tiap tahun di Dispora masing masing Daerah.

Kegiatan ini bisa diberi nama “Anggaran Bantuan Prestasi “ yang diberikan secara  rutin  tiap bulan untuk atlet potensial dan atlet  berprestasi .

Jika hal ini dilakukan, secara tidak langsung akan ikut  mendongkrak lahirnya atlet atlet potensial dari semua cabang olahraga yang ada di  semua daerah  di Jabar.

Kesejahteraan atlet jangan jadi tugas pokok dari KONI. Anggaran pembinaan dari KONI untuk semua cabang olahraga lebih di fokuskan untuk kegiatan-kegiatan latihan, try in, try out, ikut event dll.

Kecuali Anggaran Bantuan Prestasi ( Kesejahteraan ) yang harus “ngunci” jadi mata anggaran di SKPD seperti Dispora    

Atlet dituntut berprestasi, atlet dituntut memberikan medali emas, tapi perhatian kepada atletnya masih minim. Ini sama saja dengan bohong.

Ingat, Atlet juga satu waktu bisa berontak karena sudah tidak ada yang dipercaya untuk masalah kesejahtreraannya.      

Harus dipahami atlet juga punya perut, atlet punya keluarga dan mereka juga butuh pendidikan.  Semua ini harus jadi tanggung jawab daerah dan jangan hanya menjadi tanggung jawab KONI saja.

Tinggalkan pesan

%d bloggers like this: